 | Welcome to My Little Ocean... | Sep 24, 2007 |
Ocean is a wonderful thing... It's deep and wide... It takes you drowning there to see the secrets inside it... My life is just a little ocean in this wide world... But, still, you can find what's inside that gives you benefits... I hope you'll find what you're looking for and get at least one benefit... Although it's just as small as a seed... “Dia bahkan pake acara salah kira segala!” Kembali teringat kejadian itu dan seketika atmosfer duniaku berubah jadi sedih dan sendu. Sudah lama rasanya ingatan itu mengendap dalam benakku, tak lagi terangkat dan terbawa ke alam sadarku. Seolah aku menganulirnya. Tapi malam ini, dia muncul lagi, menjadi kesadaran baru yang menyentakku dan membuatku begitu sedih.. Sedih, bukan hanya karena bayang-bayang kasih tak sampai, yang hingga sekarang masih kupanjatkan do’a agar tidak demikian akhirnya. Aku sedih, menangisi perasaanku sendiri. Menangisi kenapa bisa-bisanya terulang kembali, aku begitu menyimpan perasaan yang kuat pada seseorang yang bahkan tidak menganggap aku apa-apa. Entah harus berapa kali jatuh lagi. Sakit kan rasanya.
Kenapa ada rasa itu, aku bahkan bertanya kepada Rabb-ku sendiri. Kenapa ya Rabb, aku harus mencintai dia yang bahkan tidak mencintaiku. Kenapa harus menginginkan dia yang bahkan tidak menginginkanku. Mengapa aku rela dibuai dengan pandangan mata kami satu sama lain, merasa dia mungkin ada rasa denganku, padahal yang terjadi di hadapan mataku adalah dia mengkhususkan orang lain, membuka diri kepada orang lain. Dan kenapa harus kejadian lagi. Patah hati itu menyakitkan sekali, dan sekarang hal yang menyakitkan itu berpotensi untuk terulang lagi. Aku tidak mau….. Ya, aku harus berprasangka baik pada-Nya. Akan tetapi, persepsi baik yang ada dalam pikiranku bisa jadi berbeda dengan-Nya. Aku hanya mampu meyakini bahwa apa yang Dia kehendaki adalah baik, selalu baik. Apapun jadinya nanti aku yakin akan bisa terima semuanya, karena aku percaya bahwa Dia selalu mampu menjadikan aku ridha terhadap segala ketentuan-Nya.
Bercucuran air mata kah nantinya? Mungkin memang itu yang baik bagi-Nya. Jika ternyata berakhir di pelaminan pun, maka berarti itulah yang baik bagi-Nya. Aku hanya bisa berdo’a. Atau, mungkin aku hanya menjadi rapuh. Rapuh akan rasa ini. Rapuh karena pernah terluka begitu dalam….? Kejadian hampir 2 tahun lalu, kurasa aku sudah mampu mengatasinya. Tetapi agaknya hal itu masih meninggalkan bekas. Bekas luka yang masih terasa sakit. Dan rasa sakit itu begitu menghantui, hingga aku selalu merasa takut jika itu akan terulang. Bahkan, ketika aku mulai bangun dan kembali melangkah, aku seperti bangun dengan ketakutan. Aku sibuk mengantisipasi agar hal itu jangan sampai terulang lagi. Ya, meski semua berakhir dengan indah dan baik-baik saja, tetap itu terasa begitu menyakitkan. Mungkin aku memang hanya dihantui ketakutan. Mungkin saja bayang-bayang patah hati itu memang hanya bayang-bayang yang tak pernah nyata, karena aku tidak pernah tau kebenarannya. Atau sudah terlanjur dibutakan dengan ketakutan akan terulangnya sakit yang pernah kurasa dulu. Jika selama ini aku merasa bukan siapa-siapa baginya, mungkin sebenarnya tidak demikian, karena aku sendiri memahami, bahwa kuatnya rasa tidak linear dengan seringnya interaksi. Dan mudah-mudahan ini bukan hiburan belaka.
Sekarang, akhirnya aku paham, kenapa para aktivis dakwah menghindari bahkan mungkin yang paling ekstrim mencela habis-habisan orang-orang yang mencintai dan terjatuh, alih-alih berniat dan berusaha membangunnya. Aku pahami, kenapa para murabbi/ah sejak zaman SMA tidak menyenangi binaannya disibukkan dengan rasa ini. Aku pahami, kenapa rasa yang fitrah ini mereka anggap sebagai virus. Karena, mencintai dan terjatuh ke dalam cinta, akan menyita hati dan pikiran kita, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk produktivitas dan cita-cita masa depan diri serta ummat. Kita akan terbuai dalam panjangnya angan-angan indah dengan si dia, atau terperangkap rasa penasaran tak berkesudahan karena teka-teki prasangka yang hanya Allah tahu jawabnya, atau menangis dan kesakitan tak terperi ketika cinta itu tak berbalas.
Jika Anda belum pernah merasakannya, ketahuilah, begitu sakit rasanya ketika cinta tak berbalas. Jangankan kenyataannya, bayang-bayangnya pun begitu menyakitkan. Tetapi sayangnya, patah hati adalah resiko dari mencintai. Dia beriringan dengan nuansa mencintai. Dan cinta tidak hanya beriringan dengan luka patah hati, tetapi juga kebahagiaan. Epilog: Aku hanya bisa berdo’a, agar patah hati tidak lagi ada dalam kamus hidupku. Aku hanya bisa berdo’a agar Dia berkenan satukan kami dalam rahmat dan kasih sayang-Nya, pertemukan kami atas dasar cinta kepada-Nya, jadikan kami kufu’ jika sebelumnya tidak, jadikan kami baik untuk satu sama lain jika sebelumnya tidak, berikan barakah dalam rumah tangga kami, dan kekalkan cinta kami dunia-akhirat. Rasa ini datang, semata adalah ujian dari-Nya untukku. Dia hanya ingin aku kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Agar kujadikan ini sebagai sarana agar aku bermunajat kepada-Nya. Agar aku yakin seutuhnya bahwa hanya Dia yang kuasa, Tempatku Bersandar dan Berserah Diri. Agar aku sadari di mana kelemahanku, setelah sekian banyak pula Dia tunjukkan aku begitu kuat untuk hal-hal lain. Dan jika cinta ini adalah cita-cita yang harus dibangun, maka adalah tugasku juga memohon pada-Nya untuk bukakan jalan ikhtiar. Tugasku untuk berpikir dan berikhtiar dengan cara-Nya. Tugasku untuk membenarkan pondasinya: keikhlasan, bahwa ikhtiar bukanlah berarti harus mendapatkan apa yang diikhtiarkan, tetapi agar Allah menghitung amal dan kebaikan yang kulakukan dalam ikhtiar yang benar itu. Sesaat menuliskan ini, perasaanku perlahan membaik. Karena Dia yang membuatku merasa lebih baik. Alhamdulillaah…. (2 Januari 2012) Sekadar mengisi waktu luang, karena lagi libur shalat. Dititipin tas-tas, sekalian liat-liat batik SALAM yg ijo-ijo... Lucu... (n_n) Berulang kali menunda pekerjaan, hingga kemudian berulang kali pula menyadari bahwa aktivitas yang teratur itu sangat menyenangkan. Tidak membuat tertekan dan masing-masing aktivitas bisa optimal. Sering kali, kita sendiri yang buat diri kita terdesak sesuatu, hanya karena kata-kata semudah, "Ah, ntar lah!" atau, "Masih lama kok..." Tidak hanya terdesak oleh waktu, yang mengakibatkan kita terburu-buru, yang mungkin membuat pekerjaan tidak optimal, tetapi juga terdesak dalam hal keuangan, karena gak mampu prepare hanya karena kata-kata semudah, "Masih segini kok..." atau "Gak akan kekurangan kok, bisa lah....". Terdesak dan terhimpit itu capek kan? Udah ngerasain sendiri lah gimana capeknya diburu-buru kerjaan, gimana capeknya menahan himpitan ekonomi supaya bisa tetap beraktivitas. Kalau dari awal semuanya dibikin proporsional, gak akan ada capeknya beraktivitas. Semuanya indah kalo proporsional. Bayangkan, kalau kita bisa sisipkan urusan skripsi #ups di tengah-tengah luangnya waktu kita, sisipkan hafalan Qur'an dalam 24 jam waktu hidup dalam sehari, sisipkan pengurangan gunung cucian di sela-sela kesibukan kita. Gak akan ada ceritanya deg-degan sama deadline UP atau diuber-uber pembimbing. Gak akan ada ceritanya panik karena hafalan belum sampai target sementara plan untuk nikah makin dekat saja. Gak akan pusing mikirin besok harus pakai baju apa, atau pontang-panting cuci segunung pakaian karena besok mau keluar kota. So, proporsional itu indah kan...? Have nothing more to say, selain indahnya hidup kalau dibuat proporsional, termasuk beban pikiran.... :)
PS: Menyisipkan tulisan di tengah-tengah luangnya waktu, juga enak ternyata... Perlahan tapi pasti tulisan semakin banyak saja.. :)  | Kecewa | Jan 8, '12 5:48 AM for everyone |
Belakangan ini hatiku sesak dengan satu kata itu. Menurut orang, kecewa datang karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, berharap hari ini akan keluar rumah untuk beberapa aktivitas, lalu ternyata ada halangan tak terduga. Atau, memperhitungkan akan hadir tepat waktu di kelas, ternyata keretanya terlambat luar biasa, sehingga harus cari alternatif kendaraan dan jadinya terlambat. Atau, menunggu seseorang yang janji akan hadir di waktu dan tempat yang ditentukan, lalu setelah menunggu dua jam tetap tidak ada tanda dia akan datang, tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi. Atau, sekadar berharap sms direspon, nyatanya tidak ada respon sama sekali.
Hal biasa ya sebetulnya. Tapi kalau kejadian itu bertubi-tubi terjadi dalam jangka waktu yang singkat, seolah kecewa datang ketika hati belum pulih dari kecewa sebelumnya, rasa sakitnya jadi berlebih.
Hikmahnya, mungkin kita harus mampu mengantisipasi kondisi-kondisi tak terduga yang kontraproduktif dengan harapan dan rencana kita. Mungkin perlu ditegaskan terhadap diri sendiri, bahwa orang lain tidak ada yang bisa dipercaya. Bahwa janji yang diucapkan, 99% kemungkinannya batal. Bahwa harapan yang ingin dicapai, 99% kemungkinannya akan gagal. Bahwa tidak ada seorang pun hadir dalam hidup kita untuk menolong, melainkan hanya untuk bersenang-senang sesaat lalu menyusahkan kita.
Sugesti itu perlu, bukan untuk jadi manusia antisosial, karena kecewa terhadap orang lain memang konsekuensi dari suatu interaksi sosial. Bukan juga untuk jadi seseorang yang tidak optimis, karena kecewa terhadap kenyataan adalah juga resiko dari kehidupan, di mana kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan. Sugesti itu perlu, agar kita selalu punya back up-plans. Supaya kita juga merancang cara alternatif untuk mencapai tujuan kita. Agar kita hidup dengan kaki dan tangan sendiri, tidak bergantung pada orang lain.
Dan mungkin, kecewa hanya sekadar ujian bagi kita, yang hikmahnya adalah agar tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain. Atau, agar kita bisa meluaskan kesabaran kita menjadi tak terbatas, hingga sebongkah besar kekecewaan nantinya bukanlah terasa apa-apa. Barusan berkutat dengan kabel headset, dan alhamdulillah dapet pencerahan. Begini.... Ketika aku mencoba mengurai kusutnya kabel headset itu, pertama kali aku coba untuk mengurai dari 3 ujung yang ada: ujung di kuping kanan, ujung di kuping kiri, dan bagian yg dicolok ke hape. Kok rasanya ga selesai-selesai ya.. Padahal aku mencoba mengurainya dari 3 bagian sekaligus lhoo... O.o Lalu muncullah ide: Gimana kalo mengurainya dari satu ujung saja, dua lainnya dibiarkan, mungkin lebih cepet. Dan hasilnya?? Benar, Teman-teman... Yah, mungkin kamu sekalian udah paham hal ini jauh lebih dulu dari aku, trus merasa "Duh, ndeso banget deh nih orang, masa gitu aja baru ngerti hari gini...", tak apa tak apa... Memang kenyataannya baru ngerti sekarang kan. (n_n) Untuk hal ini, kata-kata "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" bisa digunakan (becoz ada kondisi di mana terlambat tidak lebih baik daripada tidak sama sekali, bahkan seringkali terlambat adalah tidak sama sekali *nyindir).. Dan lebih menyenangkan lagi karena ternyata aku belajar langsung dari pengalaman, meski tidak semua hal harus dialami untuk bisa belajar. So, akhirnya aku paham, bahwa ketika kita dihadapkan pada sekian masalah yang saling menjalin bagai kabel (aku gak bicara benang ya, soalnya kalo benang tautannya lebih ketat, ga janji deh bisa diurai, hihihihi) yang kusut, maka mengurainya kembali cukup dengan mengurai satu bagiannya. Satu bagian itu bisa yang mana pun, terserah aja mana yang bagi kita lebih mudah dan lebih bisa diurai duluan, atau sekadar ambil sembarang bagian juga oke.. Karena, masalah-masalah yang menjalin bagai kabel kusut, itu sebenarnya satu bagian saja, kadang punya dua ujung, kadang tiga, mungkin juga empat (siapa punya kuping tiga? Hoho). Tapi tetep aja kan mereka satu jalinan. Jadi ya, uraikan saja satu bagian, itu lebih cepat menguraikan semuanya daripada kita mencoba menguraikan semua bagian sekaligus.... Cool... Alhamdulillah... Mahabaik Rabb-ku menabur hikmah di sesuatu yang sesepele mengurai kabel kusut. Oya, satu lagi.. Sejak SMA, aku udah setuju dengan kata-kata bijak seorang teman, bahwa tidak ada satu peribahasa yang cocok dengan segala keadaan. Peribahasa itu metafora, perumpamaan dari satu kondisi dalam sekian rumitnya jalinan rantai kehidupan kita, satu keadaan dari luasnya ragam episode dan pengalaman manusia. Jadi, Temans, apa yang aku sampaikan di sini, semata adalah yang sesuai dengan kondisinya. Misal, kabel headset adalah satu kesatuan, jadi masalah yang memang saling terkait satu sama lain memang harus diselesaikan dari satu pangkal saja. Lain kalau masalahnya tidak saling terkait, maka penyelesaian paralel mungkin lebih baik.. (n_n) yoyoy (Kamar Mama&Papa, 23 Desember 2011)  | Flat | Jan 8, '12 5:45 AM for everyone |
Buka-buka inbox dan sent items di Nokia E71 merah ini. Di antara sedih ini, aku tidak tertarik dengan hampir segala hal. Everything seems flat. Ka Dilla dan Ka Aisyah ngobrol-ngobrol tapi aku sm sekali tidak tertarik menanggapi apapun, bhkn mendengarkan pun tidak tertarik. Kalau bukan karena etika mendengar yg baik, aku lbh suka pikiran dan telingaku gak di sini.
Aku prefer menyibukkan mata dan gerakan tubuh ke handphone. Bukan untuk online, karena online udah gak ada tujuannya selain nerima message WhatsApp grup, yg sering kali isinya juga malesin. Bukan untuk browsing, have no idea mau browsing apa. Otak serasa penuh tapi tumpul, jd gak bisa kerja dgn benar. Yaudah, hapus-hapus message aja....
Ternyata, dengan menghapus-hapus message itu, aku jadi punya kesempatan untuk melihat-lihat kembali message yang lama. Dan dengan itu, aku jd sadar, ada banyak orang kesayangan yang udah lama gak kuhubungi, gak kusapa, gak kuhujani dgn kasih sayang, krn mungkin belakangan ini sibuk berkasih sayang dengan yang lain.
Mmm, yaudah, abis ini sapa ah... Mudah-mudahan bisa mengurangi sedih dan hampa yang ada.... Aamin..
(171211) PS: Jumat ujian praktikum KFA kuantitatif, entah apa yg harus dilakukan untuk itu. Aku berharap tidak harus peduli, itu nggak membuatku excited sama sekali. Bismillaahirrahmaanirrahiim... I've just seen something rare. Aneh bener fenomena yang satu ini. Dan bikin gemes ya, karena bisa-bisanya bikin aku nulis selarut ini. Ini mungkin lanjutan dari cerita patah hati sebelumnya ya... Jadi gini, bahkan setelah kita patah hati, kita hanya bisa berharap gak akan lagi terulang kejadian itu. Tapi kalau terjadi lagi gimana? Ya bersyukur aja, berarti Allah ngasih remedial tuh untuk ujian patah hati, di mana kita nggak lulus ujian sebelumnya. Semoga penulis mampu begitu, aamin. Tapi sayangnya, sering kali wanita sungguh keterlaluan menyikapi 'kegagalan cinta' yang bertubi-tubi itu. Bahkan gak jarang sampai ada yang kehilangan akal sehat gara-gara itu. Prihatin saya, sungguh! Begini. Coba deh dipikir baik-baik ya... Kamu senang dicintai, butuh dicintai, dan berharap someday akan ada pria untuk perkara mencintai dan dicintai, sebagai apa pun pria itu, mulai dari pacar, TTM-an, HTS-an, suami, selingkuhan... Tapi di saat yang sama kamu malah mempropagandakan pemikiran bahwa pria adalah makhluk tercela dengan segala sifatnya, mulai dari gemar bikin kecewa, sumber air mata (no man no cry), gak berguna, PHP, dan lainnya yang-parahnya-pernyataan itu berupa generalisasi. Pikir deh baik-baik: dengan sikap kamu yang begitu terhadap pria, apa kamu akan mendapatkan mereka? I don't see any chance for you having one.... Kurang lebihnya searah dengan ungkapan: jika kamu mau menikah, tapi di pikiranmu masih ada pilihan untuk tidak menikah, maka kamu akan sulit untuk bisa menikah, atau bahkan bisa jadi tidak menikah (kamu kan yang membuat pilihan itu 'enabled' sehingga bisa diakses). Atau, simpelnya, jika kamu mau lulus sarjana 4 tahun, tapi di dalam benakmu masih ada pilihan untuk lulus lebih dari 4 tahun, yg ada kamu bakal lulus lebih dari 4 tahun. Percaya deh, yg satu ini udah terbukti di minimal dua orang. Kalau kamu bersikap like there's no other choice, effort kamu pasti gede banget untuk mencapai tujuan itu. Tapi selama opsi lain masih berstatus 'enabled', kamu gak akan fokus ke tujuanmu. Bahkan mereka yang fokus aja bisa 'terpaksa' gagal, apalagi kalo gak fokus. So, kalo kamu ingin 'punya' pria sebagai 'tambatan hati', tapi di sisi lain kamu mencela-cela mereka dan berpikir kamu gak butuh mereka, percaya deh kamu gak akan dapetin pria mana pun, satu orang pun! Lebih aneh lagi karena kamu gak konsisten. Giliran nyadar ada cowo yang naksir kamu, flirting, tetep aja kamu menikmati itu kan: diomongin ke temen-temen, minta di-ciye-in juga, blow up gosipnya juga, dan bahagia juga tuh mengetahui ada yang suka. Mestinya kalo kamu memang 'pembenci pria', ya gak usah seneng-seneng kalo ada yang naksir. Itu seperti kamu membuang sampah ke dalam tongnya, kemudian kerap kali kamu mengambilnya kembali hanya untuk dibejeg-bejeg, diunyel-unyel, dicela-cela, trus dilempar lagi ke tong sampah, dan setelah itu kamu tertawa-tawa senang. Aneh kan? Waras gak tuh? Kalo dikecewakan sama satu orang, ya kecewanya sama orang itu aja dong, ga usah pake statement generalisasi begitu. Kamu dikecewakan sama satu orang, bukan berarti orang kedua dan ketiga yang kamu temui akan sama kan. Bahkan kalo pun kamu dikecewakan sama 1000 pria, bukan berarti pria ke-1001 yang kamu temukan akan sama dengan 1000 sebelumnya kan? Owh, atau lebih tepatnya: kalo kamu bisa dikecewakan oleh (sampai) 1000 pria (ini bahasa lebay untuk fakta seringnya kamu dikecewakan), mestinya kamu yang introspeksi diri. Jangan-jangan kamu sering kecewa karena ekspektasimu terhadap makhluk bernama pria itu terlalu tinggi dan nggak lazim. Ckckck, hidup di mana, Neng? Ini adalah salah satu sikap yang berlebihan ketika kamu patah hati atau kecewa, dan yakinlah bahwa Allah gak pernah suka sesuatu yang berlebihan. Kamu nangis berkepanjangan tanpa sungguh-sungguh berusaha untuk menghapus air matamu, itu aja udah cukup nyebelin bagi Allah. Kamu kecewa bertubi-tubi tanpa usaha dari dalam dirimu sendiri untuk mengobati kecewa itu (alih-alih nyalahin dan mengutuki dia yang "kamu anggap" mengecewakanmu), sungguh menyebalkan deh. Berdo'a sih ya, minta dikuatkan sama Allah, tapi kayak nggak ada usahanya juga gitu. Ketika kamu sedih karena patah hati atau kecewa, kamu punya pilihan untuk menyikapinya dengan wajar atau berlebihan. Nangis boleh, marah boleh, tapi ya gak lantas nyerah gitu aja kalo ketemu pemicunya. Kapan mau kuat kalo dikit-dikit nyerah sama air mata, nyerah sama amarah? Sedih boleh, kecewa boleh, tapi ya gak berarti kamu jadi kehilangan akal sehat dong. Moso tiap kali kamu sedih atau kecewa, kamu berpikir gak sanggup menjalani hari esok, gak sanggup ngeliat dia lagi someday, gak sanggup melalui hari pernikahannya, gak sanggup kontak dengan relasinya. Apa segitu aja nilai hidup kamu: sebatas dia? Rugi tau. Lebih parah lagi, kalau gara-gara sedih atau kecewa, kamu sampe ngeluarin statement yang udah menyinggung Sang Pencipta: pria itu gak berguna. Helllooo, mereka diciptakan gak sia-sia dong. Kamu aja yang gak tau gimana atau gak mau 'menggunakan' mereka. Why harder fighting or living alone kalo nyatanya Allah ngasih kamu kemudahan untuk 'menjadi manusia seutuhnya' dengan adanya teman hidup bernama pria. Nyusahin diri aja sih! Satu hal lain, yang bikin sikap 'antipria' akan menjerumuskanmu ke dalam kondisi 'tidak mendapatkan pria', adalah karena pria senang dihargai (baca artikel). Pria senang dihormati. Dan, celaanmu kepada kaum mereka jelas merendahkan harga diri mereka. Kalau mindset-mu udah seperti itu, dan bahkan kamu pun menyebarluaskannya, mana ada pria yang mau sama kamu. Gak ada pria yang tahan diinjak-injak harga dirinya, dicela-cela, padahal Rabb mereka sendiri melebihkan mereka di atas kita, karena mereka pemimpin kita. So, jangan berlebihan deh. Independent, dengan tidak bergantung pada pria (atau siapa pun dalam hidupmu), tidak lantas memberimu hak dan keleluasaan untuk mencela mereka, untuk nginjek-injek harga diri mereka. Kalau pria itu sampah, maka wanita berperan sebagai salah satu dari dua pihak: pemulung yang hidupnya bergantung pada kualitas&kuantitas sampah, atau orang gila yang bermain-main gembira dengan sampah itu. Artinya, pria dan wanita akan selalu berdampingan dalam hidup. Jika salah satu merendahkan yang lainnya, maka dia juga merendahkan dirinya sendiri.
(8 Oktober 2011) Masih macet nih di jalan. But I'm sure ga akan bisa nyentuh lapak menulis gini kalo udah nyampe rumah. So, I take my time ya.... :) Jujur, tersiksa lahir batin sekali beberapa hari belakangan ini. Lelah, secara fisik dan mental. Fisik divorsir karena aktivitas yang memang banyak, mental ditempa sedemikian rupa hingga terasa sekali beban yang menghimpit. And, I feel almost there's no one here for me when I feel it. Semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Marah? Ya mana bisa, karena bisa jadi orang bahkan lebih 'susah' lagi kondisinya daripada aku saat ini. Nggak bisalah ngarepin seseorang bisa selalu 'ada' untuk jadi tempat sharing untukku. They have their own business. Siapapun titelnya, mau bestfriend kek, orang tua kek, bos kek, siapa lah,, they're all humans.. They're all the same... Makanya, aku ga pernah suka dan mau terima kata-kata romantis yang bilang sahabat itu akan selalu ada buat kita. Nope, siapa bilang. Manusia itu terbatas. Aku nggak bisa menggantungkan kebahagiaanku pada satu pihak, atau satu oknum. Entah itu orang tua, saudara, keluarga, sahabat, anyone... Untukku, cukuplah mereka adalah orang-orang terbaik ketika mereka mampu memahamiku. That's it! Don't make any promises to me lah, just show me you understand me. That's even enough for me to believe that you love me.... :) Then, memang hanya Dia yang terbaik sebagai tempat muara segala sesuatu. Galau, gundah, gelisah, gak akan sembuh sama orang tanpa izinnya. Itu sebabnya aku merasa, memang sudah semestinya Dia selalu menjadi Yang Pertama dalam segala hal. Ada masalah dan butuh tempat curhat, Dia lebih dekat bahkan dari sahabat atau keluarga yang bisa kita dekati. Kenapa harus jauh-jauh... Kejadian lagi tuh.... Kali ini, kerasa ketika aku menunda 'curahan hatiku' kepada Allah, selain hanya sekadar kata singkat memohon petunjuk, atau bahkan sekadar mengingat, aku gak bisa menemukan solusi dan ketentraman batin, bahkan setelah berbicara dengan mereka yang biasa kuajak bicara. Tapi, ketika aku meluangkan waktu sejenak untuk 'mencurahkan isi hati' kepada-Nya, baru setelah itu aku memperoleh ketentraman lewat orang lain. He knows me very well, even more than what I can do. Alhamdulillaah... :) This short dialog tonight might be one of His great gift to me.... Hari ini dapat feedback dari orang yang lamaaaa tak jumpa, tapi kenal baik diriku. Dapet feedback tentang what should I do, tentang bagaimana seharusnya, dari sudut pandang dia yang sama sekali berbeda denganku. Ya, tetap saja tidak ada yang mutlak benar dari mereka, tapi salah pun tidak. I have my own filter of it lah... And I get much more than I want... :) Sekali lagi, Allah membuka mata hati dan logikaku tentang apa yang seharusnya dibenahi dalam diriku. Demi kebaikan hidup dan masa depanku. Itu dari seorang Kakak yang memang udah makan asam garam kehidupan, haha. Yah, sebagai seseorang yang lebih tua dan berpengalaman daripada aku, nasihatnya worthed... :) It's fun sometimes being a little sister.. Haha.. Sekali lagi Allah memberikanku pelajaran yang mungkin nggak kudapatkan di tempat lain. Pelajaran yang mungkin nggak kudapatkan sebagai seorang Kakak. Semua kejadian seperti ini benar-benar meyakinkanku, bahwa nggak ada orang yang lebih penting daripada lainnya. Kita harus menebar dan memelihara kasih sayang kepada semua, tanpa pilih-pilih.... Faktanya, akan ada waktu di mana kita membutuhkan dia.... Kata-kata mereka hari ini baik sekali untuk kucermati. Semua demi kebaikan diri dan masa depanku, juga demi kemaslahatan dunia-akhiratku. More than anything, it's something that makes me realize bahwa ternyata, there's someone out there who cares, to me.. It makes me feel that I'm being loved... 'cause everybody loves being loved.... :) Thanks a lot bro and sis... :)
(2 Oktober 2011) This is what I promise you, my sis.. Hope it'll be good to you.. :) Bismillaah... Ya, singkat cerita (baru mulai udah begini, apa2an cobaaa), he became the one to me. Tanpa izin dari logika, dia tidak akan masuk ke dalam hatiku. Memang dia gimana sih? Dia baik agamanya. Sejauh yang bisa kuketahui, sejauh yang mampu kunilai, dan sisanya Allah lebih tahu, dia baik agamanya. Actually, aku pun bingung, apa sih indikator seseorang itu disebut baik agamanya. Apa dinilai dari on time atau tidaknya dia shalat lima waktu? Atau dari frekuensi shalat malam dan shalat dhuhanya? Atau dari puasanya, sedekahnya? Atau dari titel "Rohis"nya de el el? Sayang sekali, semua itu tidak bisa kuterima. Entah kenapa, aku merasa, itu hanya tampak luar. Keshalihan sesungguhnya ada dalam hati. Ya tapi kita juga gak bisa menilai hati, kecuali ada indikator yang ditampakkan, dan apakah itu? Alhamdulillah, Azlan Sain pernah menjawab hal itu. "Indikatornya tuh dia istiqamah belajar Islam, istiqamah memperbaiki diri," kurang lebih begitu katanya. Dan si dia di cerita ini gimana? Ya, he is.... :) Itu kriteria pertama. Kedua, dia berjiwa leader (halah). Aku suka watak kolerisnya yang tegas, memegang teguh prinsipnya (yang memang berprinsip pada hal paling prinsip), dan bagaimana dia mempertahankan yang dia anggap benar dan mengarahkan tujuan. Itu modal penting untuk jadi suami(ku). Gimana ceritanya, seorang imam tidak punya visi dan tidak berdaya menjalankan misi untuk mencapai visi itu. Dan, dia punya itu... :) Ketiga, mmm apa ya... Fisik? Kriteria 'acceptable' menurutku tercapai sih, tapi secara wajah masih banyak yang lebih 'bening', Christian Sugiono misalnya :p. Usia, ya, dia lebih tua hampir setahun dari aku, sekitar 9 bulan mungkin ya. Pesona lainnya? Jujur, ini yang sebenernya bikin jiper.. Duh, masya Allah, pesona dunianya sebenarnya cukup bling-bling. Dia dari keluarga berpendidikan, status ekonomi keluarganya termasuk menengah ke atas, yang bisa dibilang beda denganku. Belum lagi dia memang punya prestasi akademik yang baik, sementara aku biasa aja, cuma 10 besar kelas (ehm). Plus, pesona dunianya juga nih, jago olah raga (sepak bola doang agaknya, hihi) dan jago main gitar. Dia suka musik... Okelah... :) Tapi ya, pernah juga satu tanya mengusikku: why him? Bukankah pria macam itu bejibun di dunia ini. Kalo kata dia sendiri, "Di UI aje bisa seratus orang yang kayak gitu..." (mane?? ;p) Apa dong? Ya, ini mungkin alasan terakhirnya. Somehow, dengan semua yang ada padanya itu, aku tsiqah (percaya) padanya untuk jadi imamku. Ya itu sometimes ga bisa dijelaskan secara eksplisit, kenapa kita bisa tsiqah ke satu orang tapi tidak ke yang lainnya, yang padahal mungkin juga punya kriteria seperti itu. That's what my heart says, after all those logical things.... :) Lalu apa yang membuat kecenderungan itu berbunga? Faktanya, he's my bestfriend, sahabatku. Kelakuanku yang hobi cerita dan curcol itu agaknya udah ada sejak dulu. Dan dia mengakui itu, "Putri seneng cerita ya...". Then, dia pun bisa dibilang tidak pernah tidak menanggapi ceracau-ceracau atau curcol-curcolku, even by sms yang sebenernya nggak penting, tapi dia respon. Itu sebenernya 'kriteria' gak penting sih ya, but somehow itu yang bikin aku nyaman sama dia. Sebagai teman dia solutif, dia lucu, dia menyenangkan. Oke diajak seru-seruan. Dia sahabatku, dan kami memang dekat. Meskipun gak pernah sampe level keluarga saling kenal ya... But ya, this is us.... Sejak aku tau bahwa tidak ada hubungan yang halal bagi pria dan wanita selain pernikahan, kecenderunganku kepada pria adalah untuk menikah. So, ada kriteria-kriteria prinsip yang memang harus terpenuhi. Then, when I found him, gak hanya niat yang ada, but I also built my dreams, with him, as his wife... Aku mengkhayalkan, dan mungkin tanpa sadar mempersiapkan diri untuk suatu hari nanti memiliki keluarga dengannya. Sikap kepada anak-anak kami, impian-impian duniawi kami, visi-misi rumah tangga kami, dan lainnya. Dunia kecil kami tergambar (nyaris) sempurna dalam benakku, diiringi dengan do'a dan harapan, serta usaha yang bisa kulakukan sebagai diriku. Impian utuh itu mungkin yang membuatku 'kebal' dari banyak pria selama menantinya. I think I've had a perfect dream, and I still have chances to try. Aku berdo'a dan menanti, nyaris tanpa kelabilan. Ya, krn aku yakin, bahwa aku memang ingin menikah dengannya. That's what I thought, until those days come... Hari-hari yang sebenarnya pasti akan datang, kecuali aku meninggal lebih awal. Hari-hari di mana akhirnya dia memutuskan untuk menikah. Dia memenuhi tekadnya untuk menikah muda, usia 22 tahun, setelah selesai menempuh pendidikan sarjana. After all days I'm wondering how this story ends, then this is it. Episode-episode terakhir kisah ini dimulai saat-saat di mana aku mengetahui bahwa finally dia memutuskan untuk menikah. Lucu, kejadian itu berawal dari seorang teman yang menanyakan padaku, apakah aku tau dia mau nikah sama siapa. Saat itu aku heran, hey ada apa ini, tidak mungkin dia bisa serta-merta bertanya begitu kalau bukan karena ada 'informasi'. Ya, benar saja. Seorang senior yang menanyakan perihal kesiapannya, kemudian menghubungiku dan menanyakan kapan aku lulus. Aku menjawab. Ternyata, range waktu lulusku di luar dari kesanggupan yang bisa dia terima, tapi dia belum tau tentang niat baikku saat itu. Kejadiannya begitu cepat, yang akhirnya, memang dia tidak punya niat yang sama terhadapku. Then there comes a time, when we finally chat, being honest to each other. Maap ya, ga bisa kujelaskan dengan gamblang karena ini public area :) Intinya, dari situ dia akhirnya tau bahwa selama ini aku memang punya kecenderungan ke dia, dia taunya cuma sekadar ada senior yang menawarkan aku saja. Dan, aku pun tau bahwa alasan utama dia menolakku bukan semata persoalan kapan lulus, tapi lebih karena dia telah punya kecenderungan ke orang lain dan saat itu sedang diusahakan untuk berproses. Itu alasan yang tidak dia katakan kepada senior kami itu. Awalnya aku memang merasa tidak perlu ada pembicaraan perihal itu dengannya. Semua berakhir, sudah. Tapi semua terjadi dengan mudahnya, begitu saja kami membicarakan semuanya dengan jujur. Dia pun jujur, dan akhirnya menanyakan (mengkonsultasikan) kegundahan hatinya, "Kalo nanti ternyata ga jadi, gimana cara ngatasinnya? Secara dirimu udah pengalaman," kurang lebih itu katanya. Well, jujur nih, aku sebenernya ga tau gimana. Kok bisa ya, udah segitu jatohnya dari impian, masih bisa ngobrol becanda sama dia saat itu. Even ga cuma saat itu saja. Di lain-lain waktu sebelum dia menikah pun kami masih sering berkomunikasi (maaf nih ya sama sekali ga ada maksud membanggakan hal ini lo, but that's happened). Sekadar komunikasi dengan sesama teman, dia pun saat itu masih ada hal-hal yang harus diselesaikan terkait orang lain juga, dan dalam beberapa hal dia butuh bantuanku serta aku pun butuh bantuannya. Sedihkah aku? Honestly, itu adalah moment yang indah bagiku. Bukan karena kebersamaan atau berbagai chat yang kita lakukan, tapi karena finally ini terselesaikan, pahit tapi indah. Juga karena I have nothing to regret. Aku memilih dan menanti orang yang tepat, berusaha sebisa yang mampu kuusahakan, dan setelah itu yang tersisa hanyalah variabel yang tak terkontrol. Ketika kita dihadapkan pada variabel tak terkontrol dalam usaha kita, kita hanya bisa mengatasinya dengan do'a. Memang, bahkan setelah itu pun aku MASIH ada kemungkinan menikah dengannya. Ya itu tadi, berdo'a kepada Allah semoga aku bisa melewati variabel tak terkontrol itu dan takdirku adalah dengannya dunia-akhirat. Tapi, jujur, setelah semua kejujuran kami itu, aku gak tega kalau harus berdo'a agar Allah jadikan dia denganku. Aku punya hak untuk berdo'a seperti itu, tapi rasanya itu tidak kugunakan. Ya, dia punya kecenderungan kepada orang lain dan ingin menikah dengan orang itu, sama bukan posisinya dengan aku ke dia? Gimana coba rasanya kalo aku malah berdo'a berlawanan dengan harapannya? Aku gak tega.... Dia terlihat begitu galau, khawatir, "Gimana nih ya kalo ternyata begini begitu...," itu katanya. "Dulu ada temen yang ditolak, baru bisa sembuh dua tahun...," dia cerita ke aku. Kasian kan.... Itu mungkin masih belum seberapa, karena meski aku tidak secara spesifik berdo'a agar dia jadi denganku, terselubung jauh di dasar hati aku masih berharap. Tapi harapan itu tidak seindah dulu, karena waktu terus berjalan dan dia masih berproses dengan calon istrinya. Kadang aku nangis, tapi di lain waktu aku bisa tersenyum lega, bahkan menyikapi patah hatiku dengan sumringah. Aku ingat, penolakan via seniorku itu sampai kepadaku di suatu malam yang melelahkan, setelah pulang dari kampus. Sampai di rumah sekitar jam 11-an malam, aku shalat isya, dan setelah itu aku minta waktu kepada-Nya untuk menangis sebentar saja. Dan, He gave me that cry time, hanya sebentar. Besoknya aku masih harus ujian statistik dan menjalankan amanah sebagai Rakor SALAM. Life must go on and I have to be strong... But how strong?.... Segera saja akhir Mei datang, dan tanpa persiapan lebih, dia mengumumkan bahwa dia udah lamaran. Hatiku mencelos.... That day will come, even too sooner than I expected. Hari-hari setelah itu adalah cukup padat bagiku. BTA, sebagai binglas dan juga pengajar memenuhi hari-hari menuju walimahnya. Tanggal telah diumumkan. Guru-guru di SMA kami telah ramai membicarakan, tidak ketinggalan pula di BTA.... Hari Senin pagi itu Mbak Upik berbisik di telingaku, hanya menyebutkan tanggal pernikahannya dan nama calon istrinya. Aku mengiyakan dan Mbak Upik merangkulku. Aku menangis, singkat dan spontan... #haduuh yang nulis berkaca-kaca nih... Di hari-hari berikutnya aku merasa lebih 'menikmati' patah hatiku. Kadang aku berkelakar tentang hal itu (eeeyyy jeeeng aku patah hati looo *tingting #iyakaleee). Sekadar menghibur diri sendiri sebenarnya. Yah, siapa lagi yang bisa menghibur, haha, karena teman-teman yang tau kisah ini bahkan turut bersedih dan prihatin (thanks ya temans...). Itu moment yang berat sebenarnya. Ada kalanya ketika aku sendiri aku menangis. Setiap hal sepele yang membuatku teringat akan dia membuat hatiku teraduk-aduk, sering hingga meneteskan air mata. Mau naik kereta berangkat ke kampus, bisa nangis sendiri di stasiun. Menginjakkan kaki di kota Depok, rasanya sendu sekali, karena kota Depok udah serasa punya dia. Belum ketika teman SD atau SMP-nya menanyakan, "Eh si Itu mau nikah ya.." Thanks for brightening my day... Denger lagu yang pas dengan jeritan hati yang broken, nangis. Lebih-lebih karena ada beberapa lagu teman galau zaman dahulu, yang kalau denger lagu itu keinget dia. Masya Allah.... Bahkan, lagu-lagu BSB yang muncul pada moment-moment patah hati itu, sampai sekarang masih berhasil membangkitkan kembali rasa perih yang terasa saat itu. Undangan itu pun sampai ke aku. Ikhlaskah aku dengan semua itu? Insyaa Allah ikhlas, meski tidak mudah. Aku sudah bisa tersenyum lega, meski kadang masih menangis. Dan, aku memutuskan untuk datang ke pernikahannya. I have no reason why I shouldn't come. Di hari pernikahannya, aku datang dengan sahabatku. Semua biasa saja. Bahkan di pestanya pun aku sumringah dan tertawa-tawa. Aku bercanda dengan dia, karena betapa dia keliatan canggung. Haha. Tapi, jujur saja, aku merasa tanganku gemetar sepanjang aku berada di pesta pernikahan itu. Jantungku berdebar begitu cepat. Aku sendiri gak tau kenapa. Dan kata temenku, "Mungkin alam bawah sadar lo masih belum bisa terima itu..." mmm, masa sih?.... Pulang dari pesta itu, aku dan banyak teman lainnya jalan-jalan. Nonton Shrek 4 bareng. Bersenang-senang. Still after that I feel like I'm losing someone. But I'm not crying out loud... Alhamdulillah... Bahkan, jujur, sekarang jika aku ingat dia, somehow I could feel my tears down on my face. But, the fact is I'm moving on... :) My Dear Sister, mungkin memang kisah itu tidak terlalu menggugah ya. But the fact is we are the same. Or even sometimes I think I'm too young to this, untuk mengalami kenyataan bahwa aku ditinggal nikah dengan seseorang yang telah kunantikan bertahun-tahun lamanya. Sekarang, all I can tell you is I even never know for sure, how can I fix this. Kok bisa sih aku tahan melewati semua ini. Kok bisa sih aku udah biasa aja bahkan dengan dia yang mematahkan hatiku, dengan memilih orang lain. Orang-orang menanyakan, "How?" tapi aku sendiri sebenernya gak ahli dalam menjawab itu, karena aku sendiri amazed kok bisa ya aku gak berat melepas dia. Gak berat? Masa sih... Buktinya aku pernah menangis karena hal itu kan.... Jawaban yang terbaik dari pertanyaan "bagaimana mengatasinya" adalah bahwa Allah makes it easier to me. Apa pun caranya, tapi nyatanya Allah yang mudahkan aku untuk melewati semua itu. So, Sister, berdo'a dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar kita mampu lewati ini. Yakin, bahwa Allah memberikan cobaan tidak melebihi kesanggupan kita. Bukan bermaksud kuliah rohani ya, tapi bener itu yang aku rasakan. Hal itu berat sekali untukku, bahkan mungkin dampaknya masih terus ada hingga sekarang. Ketika impian bersamanya hancur, aku merasa labil luar biasa, bahkan sekarang: coba liat, gimana aku dengan orang-orang baru yang kutemui setelah dia. Labil, karena aku tidak hanya kehilangan someone to love, tapi impian masa depan yang udah terbangun juga runtuh total. Sometimes it feels like I lost my dreams, membuatku merasa entah apa lagi tujuanku yang tersisa. Pernikahan dan rumah tangga idaman, buyar. Ya, it's hard for me karena impian yang telah kubangun selama ini, yang membayang-bayangi hariku, hancur seketika. It makes me upset dan kehilangan arah. Aku jadi nggak lagi paham apa yang kuinginkan, seperti apa sosok yang kuharapkan. Tapi, hikmahnya adalah, ternyata memang tidak tepat ketika kita menjadikan si dia sebagai standar harapan kita. Tidak tepat jika kita mempersiapkan diri menuju pernikahan dengan si dia yang telah terdefinisikan. Bukan berarti kalo sekarang udah ada kecenderungan sama orang itu salah ya. Yang salah adalah ketika kita menumpukan mimpi dan tujuan kita ke dia, mempersiapkan diri standarnya "dia". Padahal seharusnya kita melakukan semua itu secara independen, tanpa memasukkan "dia" ke dalamnya. Memperbaiki diri ya optimal saja, tanpa harus mematok batasan "kufu' dengan dia". See, that's my mistake. Ketika patokannya hilang, hancurlah semua itu. Berat bagiku membangun semua itu lagi. And Allah shows me that I'm wrong. Mestinya kecenderungan yang ada tidak membuatku membatasi diri seperti itu, apalagi hingga menumpukan impian ke dia. So, kalau dibilang baiknya gimana, yang terbaik adalah sungguh-sungguh memohon kepada Allah, dengan tulus, agar Dia berikan kekuatan agar kita mampu menghadapi semua ini dengan tegar. Agar jangan sampai sedih ini jadikan kita lalai, zhalim terhadap diri atau orang lain, dan melakukan sesuatu yang akan merugikan diri sendiri. Karena, ketika kita tidak mampu, hanya Dia yang mampu... Tapi, sertakan kepasrahan dalam berdo'a... Pasti ada alasan kenapa kita gak bisa menerima sesuatu, temasuk kenyataan pahit itu. Entah apa alasannya, hanya Kakak yang tahu. Tapi, kalau alasan itu masih membuat kita berharap "bisa" bersamanya, menghalangi kita untuk melepas dia, baiknya itu dihilangkan. Aku bisa melepas dia dan pasrah, karena aku merasa there's nothing more that I can try. Jangan turuti sesal yang ada, jangan turuti logika yang mengatakan "Semestinya bisa begini atau begitu, masih ada kemungkinan begini atau begitu". Jangan turuti juga hawa nafsu yang membuat kita binasa, yang membuat kita memburu semua hal yang sebenarnya tidak akan mengubah apa pun. Kakak lebih tau, apa yang membuatmu sulit pasrah, dan please buang itu jauh-jauh, supaya do'a kita lebih tulus, memohon agar Allah berikan kekuatan menghadapi semua itu. Berat mungkin, karena he's the best one, or you might say he's your true love... Aku terlalu dini jika memvonis dia adalah cintaku. Tapi memang, aku belum pernah menginginkan seseorang seyakin menginginkan dia, terlebih karena logika dan hatiku pun terarah sepenuhnya ke dia, tidak bertolak-belakang. Rasa yang ada pun bukan dibilang kemarin sore, tapi bertahun-tahun lamanya... But, we can get over it, just believe it. Or, if we're not sure we can, just believe He can. He always can. All we have to do is just behave well for Him, get close to Him, and ask Him to protect us, protect our hearts. Tapi, Kak, Allah akan lakukan itu hanya jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia, untuk menyelesaikan semua ini. Menyerahkan diri dengan patuh kepada-Nya, mendekati Dia dengan cara yang Dia sukai. Aku datang ke walimahnya karena menghadiri undangan itu wajib jika tanpa halangan syar'i, dan tidak ada pahala kebaikan yang melebihi pahala yang wajib bukan? So, hadir saja, penuhi kewajiban kepada-Nya, hanya karena Dia saja. Niatkan, lafalkan dalam do'a, "Rabb, aku lakukan ini karena Engkau saja". Dan biarkan Dia melindungi kita, sebagai balasan, pahala kebaikan karena kita menjalankan kewajiban kepada-Nya. Biarkan pahala kebaikan itu berwujud apa pun bagi Kakak, mulai dari ketentraman batin, kekuatan, hingga pengganti yang lebih baik. Allah tidak akan sia-siakan itu. Bukan sekadar "menang dari diri sendiri" akhirnya, apalagi "menang dari dia dengan bersikap tahan banting". Bagiku, semua ini terjadi memang semata karena Allah mau kita melibatkan Dia. Dia buat kita merasa tidak lagi sanggup menanggung beban yang ada, supaya kita sadar bahwa ada Dia Yang Mahakuat dan menguatkan. Sekadar supaya kita minta kekuatan kepada-Nya dengan kerendahan hati. Karena, segala usaha kita menguatkan diri, mulai dari melarikan diri, block Facebook, memutuskan kontak, dan lainnya, nggak akan berhasil tanpa izin-Nya. Pun sebaliknya, tanpa harus membuang tenaga dan pikiran untuk melakukan semua itu, dengan kuasa-Nya kita pasti kuat menghadapi kenyataan pahit itu. 2 Oktober akan segera datang, tapi juga segera pergi. It will be just passed by. Semoga kita nggak merugikan diri.... It will be just passed by, like 5 June. And we will survive even stronger than before. Asal kita mau kuat dan dikuatkan. Start from: jangan turuti emosi untuk berkata-kata yang desperado. Jangan turuti emosi dengan bayang-bayang menangis di depan umum. Jangan turuti emosi untuk terpaku pada bayang-bayangnya, atau harapan akan dirinya lagi. Jangan menyendiri jika itu membuat kita ingat dia, tapi jika harus sendirian pastikan kita sendiri dengan kesibukan (tugas akhir?). I have no more words to say... I'm praying for you, may Allah makes you strong, Sis... Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah... "I'm a big big girl in a big big world It's not a big big thing if you leave me But I do do feel that I do do will miss you much Miss you much..." (Just missing, no more sadness, no more madness, no more useless time.... They will be just memory, and another better will come soon...)  | Bisakah | Sep 20, '11 9:37 AM for everyone |
Jika boleh terus terang, keinginanku terbesar saat ini adalah keluar dari hiruk-pikuk rutinitas, kewajiban sosial dan ekonomi yg berlalu-lalang.
Aku ingin pergi, jauh jauh jauh, ke tempat yang belum atau sudah pernah kudatangi, sendiri saja. Sekadar memberi waktu untuk diriku sendiri, untuk batinku. Sekadar meredakan kisruh batin dan gejolak jiwa. Sekadar menyendiri, dengan Allah saja. Mencoba mengobati batin yang lelah ini, menyuntikkan semangat produktif baginya. Ya, kali ini aku sadar, bahwa batinku blm pernah 'libur', seiring selalu ada tuntutan raga dan apa yg tampak.
Sekadar memenuhi kebutuhan untuk berkontemplasi, membenahi diri. Jauh dari semua yang mengintervensi originalitas diriku. Jauh dari semua yang merongrong tindakanku, memaksaku untuk harus begini dan wajib begitu. Jauh dari mereka yang terlalu sibuk untuk mendengarkan, terlalu kacau untuk peduli, tetapi juga pongah untuk menyadari. Karena, aku merasa ada sesuatu yang salah pada batinku, yang harus dibenahi, sehingga setelahnya aku bisa jalani hidup lebih baik lagi.
Ya, sesuatu yang salah, entah apa. Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah. Salah, sehingga sulit merasa tenang. Salah, sehingga sulit fokus pada tujuan. Salah, sehingga aku kerap kali ragu akan diriku sendiri. Salah, sehingga sulit berlaku bijak terhadap masalah.
Aku ingin menghilang sejenak untuk menata diriku. Bisakah?
Tanpa berpikir aku harus selesaikan urusanku di kampus. Tanpa berpikir mengajar adalah kewajiban juga kebutuhanku. Tanpa berpikir ada keluarga dan kerabat yang haknya harus kutunaikan. Tanpa bermaksud egois mengesampingkan sementara semua itu.
Sekedar 'merawat-inap' batinku yg kisruh dan porak-poranda. Menyembuhkan luka batin yang masih membekas, beberapa masih menganga. Memperbaiki kenangan pahit masa lalu menjadi memori semanis madu. Membantu diriku menyadari, ke mana seharusnya hati ini berlabuh. Menghentikan air mata yang tak biasa, yang kerap kali mengisi hari dan malamku belakangan ini, menutupi ceriaku.
Bisakah.... Malam ini, aku menyadari, atau semakin menyadari, bahwa cintaku kepadamu tidak sempurna. Ia cacat, rapuh, sedikit sentuhan mampu menghancurkannya. Apakah seharusnya itu tidak jadi masalah bagiku, karena itu cuma masalah rasa? Tidak! Sayang sekali, jawabannya tidak... Cinta tidak sesederhana rasa, aku percaya kau pun pahami itu. Dan aku risau, menyadari ketidaksempurnaan cintaku padamu. Bukan karena risaumu, bukan karena gelisahmu. Akan tetapi, ketidaksempurnaan cintaku kepadamu adalah sebuah bukti ketidaksempurnaan imanku. Cacat, rapuh.... Lantas apa aku di hadapan-Nya.... Imanku cacat, dan aku menyadarinya, serta Dia bahkan lebih tahu. Ini sungguh menyedihkan, dan ini yang menjadi beban hatiku. Akan tetapi, aku pun merasa berat menanggung syarat sempurna itu. Setidaknya saat ini. Percayalah, hanya saat ini.... Hanya saat ini, yang sayangnya, yang menyedihkan, aku tidak bisa janjikan batas waktunya sampai kapan.... Setiap orang punya cara yang berbeda dalam mencintai orang lain. Akan tetapi, dari semua yang berbeda itu, dapat ditarik sebuah kesamaan, bahwa cinta sejati adalah ketika kita memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Karena setiap orang memperlakukan dirinya dengan cara yang berbeda, maka cara seseorang mencintai orang lain pun berbeda. Persepsi cintaku, mungkin berbeda denganmu, mungkin juga sama. Aku bukan wanita manja yang membiarkan diriku bernyaman-nyaman di masa kini, dan kemudian terjerumus di masa depan. Maka dari itu, jika aku tidak membiarkanmu bernyaman-nyaman di masa kini, bukan berarti aku tidak cinta, tetapi begitulah aku memperlakukan diriku sendiri. Aku tidak menganggap materi sebanding dengan kadar cinta. Orang kaya yang menyantuni orang miskin tidak berarti hendak berkawan dengan orang miskin itu, tidak pula berarti mau hidup bersama orang miskin itu. Maka dari itu, jika aku tidak menghujanimu dengan materi, bukan berarti aku tidak cinta. Mungkin aku memang tidak mampu, atau aku merasa tidak tepat memberimu materi. Satu yang pasti: begitulah aku memperlakukan diriku sendiri. Aku gemar bersenang-senang dengan orang lain, terutama orang-orang kesayangan. Tetapi, ada kalanya aku memilih untuk menyendiri, terutama ketika aku sedih. Aku terbiasa menyelesaikan sendiri persoalanku, kecuali jika aku meminta orang lain untuk membantu. Maka dari itu, ketika kamu bersedih atau dalam kesulitan, kemudian aku membiarkanmu, bukan berarti aku tidak cinta atau tidak peduli, tetapi begitulah aku memperlakukan diriku sendiri. Begitulah sebagian tentang persepsi cintaku. Maaf, jika aku terkesan tidak memperlakukanmu dengan baik, karena mungkin persepsi cinta kita berbeda. Dan, perbedaan ada bukan untuk dipertentangkan. Semoga kita sama-sama dapat memahami perbedaan tersebut, jika kita memang berkehendak untuk saling mencintai. Karena cinta bukan sekadar rasa, tetapi juga komitmen untuk menjalankan konsekuensi dari cinta itu. Setiap orang memiliki standar "penting" dan "tidak penting" masing-masing. Sesuatu yang bagi kita tidak penting, bisa jadi begitu prinsipil bagi orang lain. Sesuatu yang bagi kita "layak diabaikan" bisa jadi terlalu sakral bagi orang lain. Tidak salah, karena setiap orang punya kehidupan masing-masing, dengan beragam perbedaan, agaknya tidak mungkin identik. Belum terhitung perbedaan persepsi pada kondisi yang sama. Maka dari itu, tidaklah bijak menyepelekan apa yang dianggap penting bagi orang lain secara personal. Perbedaan "penting" dan "tidak penting" itu, yang diikuti juga dengan beragamnya "kadar penting" dan "kadar tidak penting", membuat perbedaan lain antara seseorang dengan lainnya. Berat ringannya masalah, misalkan, bisa jadi berawal dari "kadar penting dan tidak penting"-nya sesuatu bagi seseorang. Suatu masalah yang timbul pada perkara yang dinilai "terpenting" akan terasa lebih berat daripada masalah yang timbul pada perkara "kurang penting". Akan lebih jauh lagi selisih bebannya jika dibandingkan dengan perkara yang "tidak penting". Oleh karena itu, tidaklah bijak mengatakan seseorang "terlalu berlebihan dalam menyikapi masalahnya". Perbedaan lain yang terkait dengan "penting dan tidak penting" serta "berat dan tidak berat", adalah perbedaan dalam sensitive site. Orang biasanya memperlihatkan reaksi "sensitif" ketika ada orang lain yang menyentuh "sensitive site"-nya, terlebih jika yang menyentuh adalah orang lain yang dianggap "nonfamiliar" atau "asing". Tidak mengherankan, jika kita menemukan orang yang selalu santai dan cuek ketika ditanya kapan menikah, kemudian raut wajahnya berubah ketika topik pembicaraan beralih ke masalah pekerjaan (profesi). Sementara itu, orang lain menilai kedua perkara tersebut tidak sensitif baginya, tetapi suatu hari kita melihat raut wajahnya berubah ketika ditanyai kabar keluarganya . Oleh karena itu, tidaklah bijak menyeragamkan "sensitive site" satu orang dengan yang lainnya. Ini hanya masalah persepsi, bahwa kita dengan orang lain mungkin berada di sisi yang berbeda. Bertahan pada posisi masing-masing tidak akan pernah membuat kita mencapai titik temu. Memberi tekanan, agar yang satu melebur dengan yang lain, berarti menganulir perbedaan yang ada atau mengabaikan kepentingan yang lain. Untuk bisa saling memahami, bertukar posisi adalah lebih bijak. Tidak perlu memaksa orang lain menjadi secuek kita. Tidak perlu memaksa orang lain menjadi setegar kita. Tidak perlu memaksa orang lain untuk tidak emosional seperti kita. Terlebih jika hanya untuk menyikapi satu kondisi yang sama. Matahariku hari ini terasa meredup. Akankah turun hujan? Memang kenapa kalau hujan? Bukankah setelahnya mentari kan hadir bersama pelangi? Tiada satu pun yang ada pada keduanya, melainkan nikmat. Ada masanya terang, ada masanya redup. Ada saatnya panas, ada saatnya dingin. Semua sudah pada proporsinya. Semua terasa indah dan menyenangkan, kecuali jika ia diawali dengan "terlalu". Terlalu sering, terlalu dekat, terlalu baik, terlalu terbuka. Apa yang bagus dari semua itu? Tuan Bahasa Indonesia sudah sejak dahulu berfatwa, bahwa segala sifat yang diawali dengan kata "terlalu" menjadi bermakna negatif. Mr. English pun bertitah demikian. "'Too' has negative meaning," katanya. So, be balance, girl! ============================================ Suatu malam aku berjalan menyusuri keramaian. Aku melewati sebuah toko bunga. Entah bagaimana, mataku menangkap ada sekuntum mawar biru, cantik sekali. Bunga favoritku! Hanya sekuntum, benar-benar hanya sekuntum di antara banyaknya bunga lain di sekelilingnya. Aku segera mendatangi sang pemilik toko di dalam sana, dan bertanya, "Pak, mawar birunya berapa setangkai?" "Mawar birunya lagi kosong, Neng! Kalau Neng mau, bisa pesen dulu. Biasanya setangkai saya jual Rp 80.000,-" Alhamdulillah.... Kebetulan, uang yang kubawa sekarang cukup untuk membelinya. "Ada kok, Pak. Di luar sana, saya lihat ada satu tangkai lagi. Saya beli, ya, Pak?" Bahkan sang penjual sepertinya lupa, bahwa dia masih punya setangkai lagi mawar biru. "Oh, ada ya? Mana, Neng?" Kami berjalan keluar toko. "Itu, Pak," aku menunjuk setangkai mawar biru cantik yang mekar terlindung bungkusan plastik, dihiasi pita biru senada yang manis. "Itu bukan pesanan orang kan, Pak? Saya beli ya?" "Oh, ambil deh, Neng. Bukan pesanan orang kok. Itu sisa order saya sebelumnya," ujar si Bapak sambil meraih Mawar Biru. "Lha, pantes pada ga mau ambil yang ini, Neng, ada duri-durinya. Neng masih mau beli? Atau saya cabutin dulu ya, duri-durinya." "Gakpapa, Pak! Biar! Biarkan dengan durinya. Saya beli apa adanya. 80 ribu kan, Pak?" "Oh jangan, Neng! Saya kasih 50 ribu saja." Alhamdulillah, tidak menyangka akan mendapatkan mawar biru cantik, yang katanya susah ditemukan, dengan harga yang cukup murah dibandingkan biasanya. Setelah berterima kasih dengan sumringah kepada sang Bapak, aku pergi, melanjutkan perjalanan sambil menggenggam erat Mawar Biru. Aku kembali melanglang buana, menikmati kota besar penuh pesona ini. Biasanya, kota ini menunjukkan wajah aslinya di malam hari, seperti ini. Saat siang, ia bagai bertopeng, menutupi coreng-moreng wajahnya. Apa yang terlihat di malam hari tidak akan kau temukan di siang hari. Inilah Jakarta. Baru beberapa jarak yang belum begitu jauh dari toko bunga tadi, seorang wanita muda cantik memberhentikanku dengan tergesa-gesa. "Kamu beli di mana mawar biru itu?" tanyanya serta-merta. Belum sempat aku menjawab, wanita muda tadi menarik lenganku dan menyeretku kembali ke toko bunga di mana aku mendapatkan Mawar Biru. Langkahnya begitu cepat, sehingga segera saja aku tiba di hadapan Sang Bapak lagi. "Pak, ini mawar yang saya pesan pekan lalu bukan? Kenapa dikasih ke orang lain?!" wanita itu berang. Sang Bapak tidak kalah terkejut dan bingungnya. Namun, dengan sabar dan sopan ia menjawab, "Maaf, dalam daftar pesanan saya sudah tidak ada order mawar biru yang belum saya penuhi. Sudah tidak ada! Silakan dilihat ke dalam kalau mau." Mereka berdua bergegas ke dalam toko untuk melihat daftar order si Bapak. Aku menanti di luar, bertanya-tanya apakah memang benar, apa Bapak itu lupa. Kalau semua benar, maka aku harus rela melepas Mawar Biru yang sudah kugenggam ini. Dari luar kulihat si wanita berbisik lembut, entah apa. Namun, si Bapak menjawab tegas dan tenang, yang malah membuat si wanita makin berang dan kemudian pergi meninggalkan toko. Si Bapak kemudian keluar dan berkata padaku, "Orang sinting dia, Neng! Pernah ketemu saya juga nggak. Nyuruh saya ngambil lagi mawar yang udah Neng beli, seolah-olah dia yang udah pesen duluan, dia mau bayar berapa aja katanya, karena tiba-tiba kepengen mawar biru. Sinting!" Oh, aku mengerti..... Mawar Biru masih dalam genggamanku, dan perjalanan kulanjutkan. Meski dia terbungkus plastik, beberapa durinya mencuat, dan tidak jarang menggigit tanganku yang menggenggamnya. Seolah ia menantangku, "Kalau kusakiti dengan duriku, akankah kau lepaskan dan buang aku?" Aku tersenyum, membayangkan si Mawar Biru membatin begitu padaku. Batinku menjawab, "Maaf, perih pun tidak akan kulepas, karena aku telah lama merindukanmu, telah lama mencintai rupamu, telah lama ingin memilikimu. Duri adalah apa yang semestinya ada padamu, dan aku tahu itu." Tiba-tiba, perjalananku kembali dihentikan. Kali ini oleh sepasang kekasih, ...maaf, sepertinya kekasih tapi... "Mbak, boleh minta mawar birunya? Saya tukar dengan tulip-tulip ini. Boleh? Saya gak rela malam ini harus bertengkar lagi dengan pacar saya, hanya karena saya tidak memenuhi keinginannya untuk diberi mawar biru. Saya belikan dia serangkaian tulip ini, dan dia menolak. Beginilah jadinya," Sang Lelaki mencurahkan segalanya tanpa kupinta. Satu tangannya menggandeng Sang Perempuan yang berkali-kali berontak merajuk (ugh!) dan pasang wajah masam, tangan lainnya menggenggam rangkaian cantik bunga-bunga tulip terbungkus plastik yang diikat dengan pita merah. Astaga, kurang apa bunga itu, batinku. "Gimana, Mbak? Mau nggak?" borong si Lelaki. "Maaf, tidak bisa. Maaf, ya...," jawabku pelan sambil berlalu dari mereka. Memberikan mawar biru itu sama dengan membiarkan Si Lelaki ditindas oleh Si Perempuan yang sama sekali tidak dewasa! Lagipula, aku tidak rela melepas mawar biru ini. Yah, meskipun tulip tadi amat menggoda, tapi dalam perjalananku, hadirnya mawar biru ini ditanganku adalah hadiah Yang Mahakuasa. Tidak rela kalau harus kuberikan pada wanita manja tadi. Aku kembali berjalan, menikmati malam. Masih menggenggam mawar biruku. Kali ini aku memutuskan untuk pulang saja. Entah hal aneh apa lagi yang terjadi kalau aku melanjutkan perjalananku. Sementara itu, Mawar Biru masih menggigit tanganku dengan durinya. Dia sukses, karena kali ini tanganku berdarah. Aku berhenti untuk memeriksa lukaku. Tidak dalam, bukan masalah, batinku. Tetapi kemudian... "Dek, mawarnya tuh yang bikin luka. Kenapa nggak dibuang duri-durinya? Apa sih bagusnya mawar dengan duri-duri mencuat begitu? Kalau saya mah saya buang! Mending cari bunga lain yang lebih ramah." Seorang Ibu melongokkan kepalanya melihat tanganku lalu menasihatiku tanpa diminta. Belum selesai keterkejutanku, Sang Ibu kembali menyerang, "Udah buang aja! Mau saya buangin?" Ah, apa-apaan ini..... Aku benar-benar tidak habis pikir, siapa orang ini, datang dari mana, kenapa tiba-tiba jadi peduli betul sama mawar dan kondisi tanganku. Malam yang aneh! Sepertinya, semakin lama aku berada di jalan, semakin besar peluangku kehilangan Mawar Biru. Memang harus segera pulang. "Maaf, Bu, tidak usah. Saya permisi dulu," jawabku berlalu dari Sang Ibu. Aku mempercepat langkahku menuju rumah. Fokus pikiranku adalah: tiba di rumah segera. Dan itulah yang membawa dan menguatkan langkah-langkahku. Gerbang depan rumahku telah tampak. Beberapa saat kemudian, aku telah melalui gerbang itu, melalui pintu depan, dan segera tiba di dalam kamar. Lega.... Kuletakkan Mawar Biru di atas tempat tidurku, yang seprainya pun bergambar mawar biru. Lalu aku membatin, "Mawar Biru, aku tahu kamu tidak hidup selamanya. Namun, selama kamu hidup, aku ingin kamu bersamaku, dengan aman di sini, di rumahku." ========================================= Bintara, 26 April 2011, 13.53 WIB 
:::Apa yang kalian dapat dari kisah di atas? (n_n)::: Saat ini, mungkin karena sudah pengalaman (oh ya???), saya jadi sering kasihan dengan banyak wanita, yang mengharapkan seorang pria tetapi pria itu tidak jelas hatinya ke mana. Banyak wanita, yang menginginkan keseriusan untuk hidup bersama dengan pria itu, tapi si pria entah bagaimana maunya. Lebih kasihan lagi, karena banyak dari wanita itu yang belum berani tegas dengan rasa di hatinya: mau saya tumbuh-kembangkan atau saya bunuh, lantaran menunggu kepastian dari pria impiannya. Yang paling memilukan, adalah ketika para wanita itu cuma bisa berprasangka atau berasumsi-asumsi, dari geisture dan sikap sang pria kepadanya, alih-alih menanyakan kebenarannya.... Semakin serba salah, ketika saya justru adalah orang yang mengetahui bahwa pria itu memang tidak serius dengannya. Udah diharap-harap, ngasih ketegasan juga nggak, ditanya baik-baik maunya apa malah tidak memberikan jawaban. Apa lagi yang bisa saya sarankan, selain: Leave him and get another better deh....., unless kamu memang mau menikmati perjuangan mendapatkan cintanya, menikmati setiap tetes air mata yang terasa bagai duri itu, dan tetap tidak putus asa hingga bendera kuning berkibar tertulis namanya. "Kayak lo ga pernah demen orang aje," kata seorang sahabat. Justru karena saya pernah mengalami rasa itu, makanya suka kasian, kalo ngeliat ada wanita yang 'seperti itu' (merujuk pada paragraf satu)..... Trus saya mesti gimana dong kalo ngeliat wanita lagi dalam turbulensi batin yang parah gitu..... Begini deh... Kalo kata Salim A. Fillah dengan redaksional yang sedikit berbeda: Ketika kita bertemu cinta, kita punya dua pilihan, yaitu jatuh cinta atau membangun cinta. Maukah kita memilih yang pertama: jatuh doang dan hancur-lebur sama cinta itu. Atau maunya yang kedua: membangun cinta... Seseorang bilang, "Cinta itu indah,". Okay, tentu kita ga mau kan kalo cinta membuat kita malah jatuh dan hancur-lebur.... Maka, buatlah cinta itu membangun, Friends, meski cinta itu belum bersambut, meski dia mungkin masih entah bagaimana. Cintai sesukamu, asal tidak menggeser posisi Allah di hatimu..... Kalau kamu merasa cinta itu menghancurkanmu, maka tinggalkanlah. Tapi kalau kamu belum mau meninggalkan cinta itu, maka pilihannya cuma satu: bangunlah cinta itu..... _Semangat Mencintai_ Hari ini, sudah berazzam untuk memanfaatkan waktu: membaca sebuah buku baru, yang kata Miss Debie Ari Kesnawaty berat. (Ya Deb, bobotnya lumayan untuk memancing 'sensor' Mama sebelum berangkat ;p) Ceritanya buku ini dibeli kemarin, dan, again, aku merasakan kembali sensasi tersebut: feeling guitly sama Allah setiap teringat aku sering kali tidak istiqamah kalau membaca buku. Sering banget berhenti di tengah-tengah, dari yang awalnya tertarik banget, trus ga diabisin bukunya. Makanya ilmunya nanggung mulu, ga tuntas-tuntas, hehe.. Kalo ada waktu luang, bukannya malah dilanjutin bacanya, malah ngerjain hal lain yang ga bermanfaat. Astaghfirullah. Setiap kali beli buku, takut Allah marah karena hal tersebut. Alih-alih dapet ilmunya, malah khawatirnya mubadzir, kalo manfaat dan ilmunya ga didapet. But, once more, harus meyakinkan diri, bahwa buku ini akan selesai dan bermanfaat bagiku. Harus!!! Senengnya denger lagu "Insomnia"-nya Craig David di 8 tadi... Emang seneng sama vokalnya Craig David (n_n). Coba dibuat ngaji atau nasyid, Mas Craig David.... :D I never thought that I'd fall in love love love love But it grew from a simple crush crush crush crush Being without you girl I was whole messed up up up up When you walked out said that you've had enough-nough-nough Been a fool, girl I know Didn't expect this is how things would go Maybe in time you'll change your mind Now looking back, I wish I could rewind Because I can't sleep till you're next to me No I can't live without you no more Oh I stay up till you're next to me Till this house feels like it did before 'Cause it feels like insomnia, ah... Feels like insomnia, ah... Feels like insomnia, ah... Feels like insomnia, ah... Hmm,,, lagu itu memunculkan kembali suasana hati pada saat 'itu' (maaf, disensor ;p). Walau sebenernya lagu ini bukan soundtrack cinta atau jeritan hati (hoek), tapi suasana hati yang ada ketika menyenangi lagu itu muncul kembali. Salah satu metode yang kulakukan, jika ingin menuliskan sesuatu yang mengharuskanku menghidupkan sebuah suasana, ya pakai sesuatu yang bisa mengembalikan suasana tersebut, salah satunya lagu. Hehehehe.... (n_n) Next, ngajar di kelas DMS dan EMS... Pekan depan TO UN,, aku jadi ketar-ketir ngeliat siswa-siswa, kok hari ini pada 'begini' ya.... Duh -_- Alhamdulillah pulang cepet, selesai ngajar langsung cabut. As usual, shalat maghrib di Rumah Sakit Islam. Dan di sinilah, aku telah gagal mencegah kebathilan dan menghidupkan ajaran Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wasallam. Ceritanya, aku shalat di shaf belakang, karena shaf depan penuh. Tapi shalatnya gak jama'ah, munfarid aja. Aku berusaha pasang tasku di depan tempat sujudku, supaya gak dilangkahin orang. Udah jelas itu. Dalam hati juga udah bergumam, "Kalo sampe ada yang jalan menginjak tempat sujudku setelah tas ini dipasang, gak ada alesan buatku untuk gak mencegah dia dengan gerakan badan." Raka'at pertama bahkan belum selesai, ketika ternyata ujian itu benar-benar Allah berikan. Seseorang dari shaf depanku sebelah kanan, baru saja menyelesaikan shalatnya dan..................: melangkah di tempat sujudku, melampaui batas yang telah kubuat. Secepat kilat peristiwa itu terjadi. Tapi aku memang mungkin sedang lemah iman, bukannya melakukan apa yang secara teoritis telah kupahami: menghalanginya lewat, tapi malah terdiam saja melanjutkan bacaan shalatku. Dan ujian itu selesai..... Batinku porak-poranda. Luar biasa, aku tidak melaksanakan ujian-Nya dengan baik, padahal aku tau mana yang benar. Jelas sudah posisiku di mata-Nya: sedang berada dalam kondisi selemah-lemahnya iman, yang tidak mampu mencegah kebathilan melainkan hanya sebatas penolakan hati terhadap kebathilan itu. Batinku kisruh, "Semestinya dia tidak boleh melewati batas itu!!! Sudah kudirikan!!!". Sayangnya, logikaku menang: mungkin dia memang belum mengerti, seharusnya kulakukan apa yang seharusnya agar dia mengerti bahwa dia salah. Sesaat shalatku malah jadi tidak khusyuk dengan gemuruh batin itu. Selain telah memperlihatkan kelemahan iman, aku pun membiarkan seorang hamba Allah melakukan kesalahan. Padahal, kalau aku melakukan yang benar, dia akan tahu bahwa dia salah dan mungkin tidak akan mengulanginya. Dia akan selamat dari dosa. Terlebih lagi, ketika dia tahu mana yang benar, dia akan mengajarkan itu pada manusia, minimal mengatakan apa yang dia alami kepada kerabatnya, sehingga pada akhirnya orang-orang akan aware dengan hal tersebut: mengkaji dan menerapkan kebenarannya. Betapa banyak rantai pahala yang tidak kudapat karena kelemahan iman ini............. Untuk kepentingan dakwah, aku telah gagal melakukan perintah Allah: mencegah kebathilan, dan gagal pula menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wasallam. Astaghfirullah.... Apakah Allah akan berikan ujian remedial padaku???? Betapa berharapnya,,, agar aku lulus...... Astaghfirullah.... Okay,, terakhir. Sudah seharian ini, aku terngiang kembali pertanyaan yang pernah kuajukan kepada sebejibun orang: Jika kalian mengetahui sesuatu hal terkait diriku, yang penting bagiku, tapi kalian tau persis bahwa jika aku mengetahui itu aku akan tersakiti, akankah kalian mengatakannya padaku?? Mayoritas menjawab ya, beberapa melihat sikon. Bisa dikatakan tidak ada yang menjawab tidak. Luar biasanya, suatu kejadian malah membuat pertanyaan itu berbalik terlontar padaku..... Dear Diary... (halah) Hari ini kehilangan sebuah buku. Duh, rasanyaaaaaaaaaaaa... Bener juga ya, kalo ada ungkapan:kita gak pernah sadar betapa bermaknanya sesuatu hingga dia hilang dari kita. Ya, kurang sedekah mungkin ya,, terpaksa beli lagi deh. Astaghfirullah.... Rasa yang mendominasi saat ini adalah sebuah kepasrahan dan bahagia. Pasrah kepada-Nya, mau diapakan segala rasa dan ikhtiar ini, sudah sejauh ini, menanti final dari-Nya.. Entah akan jadi apa, aku tidak pernah tau. Memohon kah? Masih, tentu saja. Tidak pernah sedikit pun kukatakan pada-Nya aku tidak menginginkan, bahkan sering kali memaksa-Nya mungkin. Maafkan hamba-Mu yang banyak maunya ini, Rabbii.. Tapi, aku tidak bisa meminta kepada siapapun selain Engkau, Tempatku Bergantung dan Memohon Pertolongan.... Bahagia. Baru kali ini menyadari, bahwa ternyata, cinta-Nya tercurah begitu indah pada diri ini, dengan hadirnya sahabat-sahabat yang tulus. Meski tidak selalu ada, tapi nyatanya mereka senantiasa rela dan bersedia untuk kuganggu. Bersedia untuk ku'colek', atau jadi pendengar setia.... Aku masih tidak habis pikir, ada orang yang mau bales sms-smsku yang gak penting, ketika orang lain dengan mudah mengabaikannya, menjawab ceracau-ceracau labilku bahkan dikala sempitnya waktu hidupnya, hingga dia bosan sendiri karena topik obrolanku gak berubah2.... Haha,, Sahabat, hari ini aku merasa engkaulah cinta Allah untukku, yang membuatku tidak rewel meminta apa yang tidak (atau belum) Dia berikan kepadaku.... Sahabat-sahabat, yang menjadi tempat berbagi, dan bersedia membagi sebagian kisah hidupnya, suka dukanya, rasa sedih dan senangnya, bahkan sering kali mereka harus menceritakan kisahnya berkali-kali, agar kami tahu secara merata kondisi masing-masing.. Sahabat, yang merindukanku, yang berkata, "Kapan kita ketemuan?? Ayo cerita-cerita lagi" Mereka orang-orang yang tidak menuntut apa yang tidak ada padaku, mereka bahagia dan menerima aku apa adanya.... Sahabatku, kalian memang cinta Allah untukku. Ketika cinta manusia lain mungkin tidak mampu kudapatkan, cinta Allah lewat kalian telah hadir jauh sebelum itu. Terlalu berharga untuk tidak disyukuri, terlalu kuat untuk kulepas.... Bahagia atau sedihkah aku nanti menghadapi takdir-Nya, Allah telah sediakan kalian untukku, untuk tetap di sisiku meski hanya untuk berkata, "Sabar ya put." Mudah-mudahan aku tidak menaruh sedikit pun iri dengki kepada kalian... Aamin. I thank Allah of you.... (n_n) “Jika ada yang bilang ku lupa kau, jangan kau dengar Jika ada yang bilang ku tak setia, jangan kau dengar Banyak cinta yang datang mendekat, kumenolak Semua itu karena kucinta kau...” (Bunga Citra Lestari-”Karena Kucinta Kau”) Itu mungkin perubahan pertama. Entah mengapa, sejak beberapa hari ini (benar-benar baru beberapa hari lho), song player di komputer saya dipenuhi lagu-lagu Indonesia, bukan lagu-lagu Barat atau Korea seperti yang biasanya terjadi bertahun-tahun lamanya. Mungkin, karena awalnya tergerak untuk memasukkan ”Menjaga Hati”-nya Yovie and Nuno, lagu yang kayaknya bisa mewakili jeritan hati. Akhirnya seisi folder ”Indonesia” dicermati satu per satu, mencari lebih banyak lagi lagu yang bisa mewakili jeritan hati. Apa yang terjadi? Halah halah, ternyata memang lagu-lagu di folder ”Indonesia” itu hampir sama saja: yang bisa mewakili jeritan hati saya. Bahkan, ”Bimbang” dan ”Suara Hati Seorang Kekasih”-nya Melly Goeslow, yang udah basi abis itu, baru kali ini saya cermati liriknya. Guess what? Saya tertegun..... Ada apa dengan saya??.... Perubahan kedua, lebih banyak rahasia. Biasanya, saya bukan orang yang ragu untuk memperlihatkan apa yang saya rasakan. Bahkan bisa dibilang agaknya selalu gagal menyembunyikan rasa-rasa yang ada. Tubuh saya berbicara, raut wajah saya berbicara, sikap saya berbicara, semua yang hakikatnya tidak mampu berkata akan angkat bicara tentang segala rasa di hati saya. Benci, rindu, cinta, marah, cemburu, terusik, jengah, semua tampak dengan mudahnya. Almost no lie.... Sisi baiknya adalah saya selalu berterus-terang. Akan tetapi, saya sadar sepenuhnya, bahwa emosi negatif akan lebih maslahat jika disembunyikan saja. Saya tidak berhak merusak hari orang lain dengan wajah mendung saya, tidak berhak menambah beban di benak orang lain dengan amarah saya. Bertemu saudara dengan wajah yang ceria juga merupakan ibadah. So, meski saya ’jujur banget’, saya tetap harus memfilter emosi-emosi negatif saya. I’m trying, tapi sudah berhasilkah?? Umm, kadang berhasil sih, karena di waktu-waktu tertentu saya masih bisa menyembunyikan sedih saya, tapi di waktu dan tempat lain tetep aja deh keliatan kalo saya lagi bete. Atau, umm, sebenernya memang sengaja nunjukin kalau saya bete, padahal sebenernya bisa mengendalikan diri, supaya si target nyadar kalo saya bete sama dia. Haha, ini benar-benar satu sikap yang kurang dewasa dari saya. Mudah-mudahan ke depannya nggak lagi deh, nggak enak banget kalau harus begini, aslilah.... Mending terus terang kalau ada masalah. Terus terang dengan cara yang baik itu lebih maslahat daripada sok ngambek ga jelas (masalahnya, terus terang di sini agaknya malah menambah masalah, jadi saya pilih ’ngumpetin’ dulu). Toh nyatanya sama ”dia” (secara khusus terdefinisikan, bukan orang umum) ga dipeduliin juga kan, hahaha. Lain kali kalo mau sedih dan bete, kabur aja deh ya.... Tapi untungnya, saya juga bagai Bola Karet: tidak stay di satu rasa dalam jangka waktu yang lebih lama daripada sesaat, untuk kemudian mental ke rasa yang lain. Kadang mudah sedih, tapi juga mudah ceria kembali. Dan agaknya ini merupakan perubahan ketiga: saya menjadi lebih Sanguinis. Belum tes kepribadian lagi sih, tapi merasanya sih begitu. Karena saya jadi lebih ekstrovert, lebih mencintai keramaian, senang menjadi pusat perhatian, senang meramaikan sesuatu, menyapa orang lain dengan kehebohan yang ekspresif, hangat kepada banyak orang (bahkan tidak ragu menyentuh tubuh orang lain), grafik emosi yang sangat fluktuatif: naik-turunnya berkali-kali dalam waktu singkat, dan emosi yang tampak lebih kekanakan. Saya sudah lebih mampu menertawakan setiap persoalan yang saya dapat, setelah sebelumnya saya bisa jadi sangat serius dan panik dikala stres dan terancam. Saya sudah lebih mampu mengubah kebodohan dan kekonyolan yang saya lakukan menjadi sesuatu yang menyenangkan (minimal di mata saya, mudah-mudahan orang lain juga begitu). Sanguinis it it?.... Nah, kalau perubahan ketiga ini, agaknya mulai terasah sejak saya mengajar. Maklum, saya harus jadi pusat perhatian dalam jangka waktu dan frekuensi yang lebih tinggi daripada biasanya, dan saya wajib membuat siswa tertarik dan mengerti akan penjelasan saya. Atau karena bahagia banget di SALAM. Bahagia banget kalau bisa mencairkan suasana serius yang sering kaku di tempat macam ”itu”. Atau, ini yang paling ekstrim (mungkin lho yaaaa), karena seseorang bertemperamen Koleris-Melankolis seperti saya dulu, mulai ”mempengaruhi” sedikit-banyak diri saya, yang secara tidak sadar menjadikan saya penyeimbangnya dengan lebih Sanguinis, tapi tidak menghilangkan sisi Koleris saya yang logis dan praktis. Mungkinkah..... ”Suara hati seorang kekasih bagai nyanyian surgawi Tak kan berdusta, Walau ketamakan merajai diri yang penuh emosi Jauh di dasar hatiku, Tetap kumau kau sebagai kasihku...” (”Suara Hati Seorang Kekasih”-Melly Goeslow)  | Guestbook | |
 |  di klik gambarnya ya.. |
 | Selamat kepada para multiply'ers mipa pemenang dalam salah satu kategori dalam acara workshop keilmiahan MII. Terus berkarya.. |
 | assalamu'alaikum. wah pupuh tulisannya banyak banget. |
 | assalamu'alaikum. wah pupuh tulisannya banyak banget. |
 | Alaikumsalam wr wb salam kenal jg anggita :D |
 | Salam kenal dr zafan ya :) |
 | Assalammualaikum... Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin...................................... |
 | put... smangat ku tak kunjung datang... gimana caranya bisar bisa jemput ya??
i only have one week left... |
 |
syrch wrote on May 16, '08 assalamualaykum.. numpang mampir ya.. |
 | aslm.....hey ukhti metkenal ya.... |
 | assalamualaikum.. mba...salam kenal juga :) |
| |